What Do You Thik About “Goldenisasi”?
What do you thik about “Goldenisasi”?
Ya, kita sering kali mendengar orang-orang
mengucapkan kata golden age, golden time, dan golden golden lainnya. Tapi apakah Anda mengerti apa yang dimaksud
dengan kata-kata tersebut?, jika belum, mari kita simak dan bahas bersama-sama.
Goldenisasi
diambil dari kata golden. Golden
artinya adalah emas. Lalu apa bedanya dengan Gold?. Golden memiliki
makna yang sama dengan Gold, namun Golden bukan termasuk dalam noun dan
hanya digunakan sebagai adjective. Jadi, goldenisasi
adalah segala sesuatu yang bersifat emas/penting.
Golden age
artinya periode emas. Maksudnya adalah periode pertumbuhan dan perkembangan
yang paling penting dalam rentang kehidupan manusia. Golden age identik dengan masa anak-anak. Golden age meliputi 1000 hari pertama kehidupan anak
yang dihitung dari masa dalam kandungan hingga mencapai usia dua tahun. Masa golden
age sangat penting dan perlu diperhatikan khusus oleh orang tua. Pada
masa golden age, otak dan fisik
anak mengalami pertumbuhan secara maksimal. Selain itu, pada masa tersebut perkembangan
kepribadian anak juga telah dimulai, sehingga dapat terbentuk pola perilaku,
sikap, dan emosi. Jika berbagai kebutuhan anak diabaikan pada masa golden age, maka tumbuh kembang anak kurang
optimal. Berbagai masalah yang terjadi akibat kurangnya pemenuhan
kebutuhan anak pada masa golden age yang
biasanya terjadi adalah gangguan kognitif, stunting atau
perawakan pendek, serta gangguan perilaku. Oleh karena itu, penting bagi orang
tua untuk mengenal tiap tahapan golden
age anak serta memberikan perlakuan dan stimulasi yang sesuai.
Bukan hanya itu, goldenisasi juga pernah dibahas oleh salah satu dosen kami lulusan magister Uludag Institute of Social Science, Bursa, Turki. Dalam tulisannya beliau menceritakan tentang kisah “Pedet Golden” yang merupakan inti dari dari QS. Al-Baqarah (Sapi). Zaman Musa a.s. dulu hidup seorang nenek tua yang telah menjanda bertahun lamanya. Ia tinggal jauh dari rumah-rumah lainnya. Ia hanya memiliki dua teman di rumahnya: seorang anak lelaki yang mulai beranjak dewasa, serta seekor sapi betina yang tak begitu produktif. Oleh para penduduk, sang anak diperintah agar merantau ke kota, mencari penghasilan karena sudah waktunya. Namun sang anak masih berpikir lama. Ia menimbang baik-buruknya pergi ke kota. Jika ia segera ke kota dan mendapat pekerjaan yang lumayan, ia akan memiliki penghasilan rutinan yang juga dapat dimanfaatkan ibunya. Namun ia masih belum tega meninggalkan ibunya yang telah memasuki masa tua. Ibunya juga sering sakit pinggangnya, karena rutin mencari kayu bakar di hutan.
Ia putuskan tinggal di rumah saja, membantu
ibunya mencari kayu. Ia pikir, jika bersama-sama mencari kayu hasilnya pasti
juga akan lebih banyak. Namun seminggu setelahnya ibunya jatuh struk, dan
selanjutnya tak mampu berjalan sendirian. Kini ia adalah ‘kendaraan bagi sang
ibu. Selain menggendong ibunya kemanapun ia pergi, ia juga mulai merawat
sapinya yang telah lama nelangsa. Usahanya mulai berbuah, sapinya kembali gemuk
dan produktif. Sementara di kota, sedang terjadi pertikaian. Seorang pembesar
kaya raya Israil mati terbunuh. Keluarga besarnya bertikai saling tuduh; siapa
sebenarnya sang pembunuh. Sebelum pertikaian makin panjang, masyakarat mengadu
ke Musa. Musa lantas bersemedi, mencari jawaban kepada Tuhan.
“Tuhan menyuruh kalian untuk menyembelih
seekor sapi, dan menggunakan ekornya untuk membuktikan siapa yang salah,” ucap
Musa setelah bangun dari semedinya. Masyarakat masih belum beranjak, lantas
bertanya lagi, ‘Sapi yang bagaimana wahai Musa? Tolong beri detailnya,”. Musa
bersemedi lagi. “Sapi yang masih perawan dan tak ada cacat di tubuhnya.” Belum
puasa mereka bertanya lagi, “Lebih detail lagi. Sapi perawan kan banyak.”
“Sapi yang menyejukkan mata jika dilihat.
Warnanya kuning keemasan.” Mereka masih saja bertanya. “Kita masih ragu jika
sapinya belum benar-benar tepat. Tolong beri penjelasan sekali lagi.”
“Sapi yang tak pernah dipakai untuk membajak,
bersih,” jawab Musa sekali lagi.
“Nah, kini jelas sapi yang dicari,” kata
mereka serentak.
Pencarian dimulai. Namun masyarakat
memerlukan waktu yang tak lama hingga akhirnya dapat menemukannya. Bahkan jika
saja tak diberi tahu tentang sapi seorang wanita yang tinggal jauh dari
kerumunan, masyarakat akan benar-benar putus asa. Perwakilan
keluarga menemui si pemilik sapi, wanita dan anak lelakinya. “Saya mau beli
sapimu. Harganya berapa?” Tanyanya. “Maaf sapi kami tidak dijual, ini harta
satu-satunya,” jawab si pemuda mengelus kepala sapi yang mulai disayanginya.
“Kita butuh sapi ini untuk menunaikan isyarat
Tuhan mencari kebenaran.”
Si pemuda mulai berfikir. “Jual lah, nak. Itu
juga atas petunjuk Musa,” timpal ibunya. “Yasudah silahkan,” akhirnya ia
merelakan. “Bagaimana kalau harganya seberat bobot sapi?” Tawar si pembeli. Masyarakat
bersama-sama mulai menimbang. Satu sisi di isi seekor sapi, sisi yang lain di
isi emas yang beratnya harus seimbang dengan badan sapi. Transaksi berakhir. Si
pemuda mendapatkan hasil penjualan sapinya yang berupa tumpukan emas. Si
pembeli mendapatkan sapinya yang dicarinya untuk membuktikan kebenaran. “Begitulah
kemuliaan merawat ibumu. Ialah hartamu satu-satunya,” nasehat Musa padanya.
Di sisi lain, golden juga disematkan pada istilah “Golden time”. Maknanya adalah waktu-waktu yang dianggap penting atau berharga untuk melakukan suatu kegiatan. Misalnya, waktu pagi hari setelah shalat subuh adalah waktu yang paling baik untuk digunakan tidur, eh salah! Maksudnya waktu yang paling baik untuk belajar, muraja’ah, dan menghafal. Selain karena suasana yang masih segar, waktu pagi pukul 04.30 hingga 06.30 juga menyajikan keheningan, sehingga otak dapat menerima stimulasi dan menyerap dengan baik. Kita dapat memanfaatkan waktu pagi untuk belajar dan mengisi kegiatan berfaaedah lainnya. Misalnya, muraja’ah hafalan, mendengarkan murotal, membaca Al-Qur’an, mengerjakan tugas, menyelesaikan konten tulisan, belajar reading untuk persiapan TOEFL, ataupun melatih kemampuan listening dengan mendengarkan lagu-lagu atau coversation. Jika kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan secara kontinuitas dan istiqamah, insya Allah akan diperoleh hasil yang berkualitas. Semangat gais!!

Comments
Post a Comment