Mengenal Lebih Dekat Pejuang Literasi J. F. X. Hoery

Di tengah merebaknya digitalisasi, Romo Hoery tetap konsisten melahirkan buku-buku dan karya sastra, khususnya berbahasa Jawa. J. F. X. Hoery merupakan salah satu founding father dari Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB) pada 1984. Beliau merupakan kakak kelas dari Presiden ke-6 NKRI, Susilo Bambang Yudhoyono di Sekolah Rakyat,Pacitan. Sejak muda beliau aktif menulis di surat kabar dan melahirkan banyak buku. Beliau yang akrab di sapa Romo Hoery ini khusus menekuni bidang fiksi dan telah mencetak ribuan buku dalam transliterasi bahasa Jawa, seperti cerkak (cerpen bahasa Jawa), cerbung, novel, dan lain-lain.

Budayawan yang sangat mencintai sastra Jawa ini telah tertarik dengan bahasa Jawa sejak kecil. Jadi tak heran jika mayoritas hasil karyanya menggunakan bahasa Jawa. Menurutnya, bahasa Jawa mengandung perasaan budi pekerti luhur. Jadi, sudah selayaknya bahasa Jawa harus dikenalkan dan dilestarikan, terutama pada generasi muda yang hidup di era serba digital seperti saat ini. Pada kesempatan Safari Literasi Budaya FTBM Bojonegoro, beliau berpesan bahwa bahasa Jawa harus dihidupkan kembali dan diimplementasikan secara utuh. Hal tersebut dipandang urgen, sebab saat ini perilaku sopan santun generasi muda telah mengalami kemerosotan.

Karya tulisnya telah berhasil mendapatkan banyak penghargaan, apresiasi, bahkan rekor MURI. Selain aktif menulis, beliau juga aktif membimbing para mahasiswa dari berbagai instansi perguruan tinggi Nusantara yang mencintai dan sedang meneliti tentang budaya dan bahasa Jawa berikut sejarahnya. Kediamannya yang terletak di Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro memiliki perpustakaan pribadi yang cukup luas. Di dalamnya menyimpan hampir 4000 buku, baik karya penulis lokal maupun mancanegara. Di perpustakaan tersebut juga terdapat buku-buku tebal yang didalamnya berisi tentang sejarah perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Dari kisah perjuangan Romo Hoery dalam menggaungkan literasi tersebut mengajarkan kepada generasi muda, khususnya bagi volunteer literasi FTBM untuk terus menebarkan nilai-nilai kebaikan, serta melestarikan budaya Jawa. Semangat literasi juga harus dipupuk dan dirawat, agar dapat memberikan banyak kemaslahatan bagi lingkungan sekitar. (RRW)

Comments

Popular posts from this blog

Tiga Amalan Sunnah Di Penghujung Ramadan, Selain Nikah Di Malam Songo

Panca-Tips Menyelesaikan Tugas Akhir Dengan Cepat Dan Tepat